Analisis Hasil Penelitian dan Pandangan Mengenai Penghentian Sementara Penerbitan Status Izin Tinggal Baru Tokutei Ginou 1 (Bidang Industri Restoran)
Tanggal laporan: 15 Juni 2026 | Diterbitkan oleh: Proyek Ketenagakerjaan Asing yang Sesuai (Gaikokujin Tekisei Koyou Platform)
Pendahuluan
Kami, Gaikokujin Tekisei Koyou Platform (Platform penempatan kerja yang sesuai untuk orang asing), didirikan pada bulan Mei 2024 dengan dukungan dana dari Yayasan Toyota, dengan tujuan mengurangi berbagai ketidaksesuaian (mismatch) yang terjadi dalam proses perekrutan tenaga kerja asing[cite: 13]. Berpusat pada industri restoran di Osaka, kami terus menjalankan kegiatan dengan keyakinan bahwa industri restoran sendiri harus menjadi pihak utama yang mendorong terciptanya praktik ketenagakerjaan yang sesuai[cite: 13].
Kami berupaya memperjelas tanggung jawab hukum, sosial, dan etika yang dimiliki perusahaan ketika mempekerjakan tenaga kerja asing[cite: 13]. Oleh karena itu, kami sangat terkejut dengan kebijakan penghentian sementara penerbitan izin tinggal terkait bidang restoran yang baru-baru ini diberlakukan[cite: 13].
Pernyataan ini bukan bertujuan untuk sekadar mendukung atau menolak kebijakan tersebut, melainkan untuk mengkaji secara objektif berbagai hal yang perlu diperbaiki agar sistem Tokutei Ginou dapat berjalan secara stabil dan berkelanjutan[cite: 13].
Bab 1. Dasar Pemikiran untuk Memahami “Penghentian Sementara”
1-1. Memahami Tujuan Kebijakan Pemerintah
Akibat kebijakan penghentian sementara ini, banyak calon pekerja asing, perusahaan penerima, serta pelaku usaha di bidang sumber daya manusia yang terkena dampak besar[cite: 13]. Namun, sebelum menilai kebijakan tersebut, kita perlu memahami apa yang sebenarnya ingin dilindungi oleh pemerintah[cite: 13]. Empat tujuan utamanya diperkirakan sebagai berikut[cite: 13].
- Mengendalikan jumlah penerimaan tenaga kerja: Dalam sistem Tokutei Ginou, setiap sektor industri memiliki target jumlah penerimaan[cite: 13]. Untuk bidang restoran, jumlah tersebut ditetapkan sebanyak 50.000 orang[cite: 13]. Pemerintah berusaha mencegah agar jumlah tersebut tidak terlampaui[cite: 13].
- Menjaga kepercayaan terhadap sistem: Pemerintah ingin menghindari munculnya kesan bahwa jumlah penerimaan sudah tidak dapat dikendalikan sehingga tetap dapat mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap sistem[cite: 13].
- Menjamin kemampuan pengelolaan: Kemungkinan pemerintah juga ingin menghindari kondisi di mana peningkatan penerimaan tenaga kerja asing berlangsung terlalu cepat sehingga melebihi kapasitas pemerintah dalam mengelola izin tinggal, perpindahan kerja, maupun sistem pendukung yang tersedia[cite: 13].
- Memenuhi tanggung jawab kepada masyarakat: Di tengah berbagai kekhawatiran masyarakat terhadap penerimaan tenaga kerja asing, pemerintah perlu menunjukkan bahwa sistem dikelola secara ketat sesuai aturan yang berlaku[cite: 13].
1-2. Besarnya Tanggung Jawab Pemberi Kerja
Mempekerjakan seseorang demi memperoleh keuntungan perusahaan berarti memikul tanggung jawab besar terhadap kehidupan orang tersebut sekaligus menjaga ketertiban ketenagakerjaan dalam masyarakat[cite: 13].
Perusahaan tidak hanya wajib mematuhi hukum, tetapi juga harus menjalankan praktik ketenagakerjaan yang menghormati hak asasi manusia dan martabat para pekerja[cite: 13].
Karena perekrutan tenaga kerja asing melibatkan perpindahan manusia lintas negara dan memengaruhi masyarakat di kedua negara, tanggung jawab tersebut menjadi jauh lebih besar[cite: 13]. Atas dasar inilah kami meninjau permasalahan ini terutama dari sudut pandang tanggung jawab pemberi kerja[cite: 13].
Bab 2. Dari Sudut Pandang Calon Pekerja Asing
2-1. Dampak terhadap Kehidupan dan Hilangnya Kepastian
Untuk memperoleh status Tokutei Ginou, seseorang harus lulus ujian kemampuan bahasa Jepang dan ujian keterampilan kerja[cite: 13]. Para calon pekerja telah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, serta biaya ujian dari kantong mereka sendiri[cite: 13].
Penghentian sementara yang terjadi secara mendadak ini menghilangkan kepastian (predictability) yang sebelumnya mereka miliki[cite: 13]. Akibatnya antara lain: risiko investasi waktu dan uang menjadi sia-sia, rencana kehidupan menjadi berantakan, perencanaan masa depan terganggu[cite: 13]. Besarnya dampak negatif tersebut sangat sulit diukur[cite: 13].
Karena itu, apabila terjadi perubahan kebijakan di masa mendatang, sangat diharapkan adanya perhatian terhadap pihak-pihak yang terdampak serta penerapan masa transisi yang memadai[cite: 13].
Bab 3. Dari Sudut Pandang Perusahaan Penerima dan Industri Restoran
3-1. Benturan dengan Krisis Kekurangan Tenaga Kerja
Menurut statistik Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, jumlah lowongan yang belum terisi di sektor akomodasi dan jasa makanan/minuman mencapai sekitar 220.000 orang[cite: 13]. Tingkat kekurangan tenaga kerja di sektor ini juga merupakan yang tertinggi di antara seluruh industri, yaitu sekitar 4,8%-6,1%[cite: 13]. Bahkan, lebih dari dua dari setiap tiga perusahaan menghadapi kondisi serius berupa kesulitan mendapatkan tenaga kerja[cite: 13].
Selain itu, rasio lowongan kerja terhadap pencari kerja (effective job openings ratio) mencapai 2,53, jauh di atas rata-rata seluruh industri[cite: 13]. Dalam situasi seperti ini, kebijakan “penghentian sementara” justru bertentangan secara langsung dengan kondisi nyata yang dihadapi industri restoran[cite: 13]. Dampaknya antara lain:
- rencana perekrutan menjadi gagal[cite: 13],
- perusahaan kesulitan menangani calon pekerja yang telah menerima tawaran kerja[cite: 13],
- persaingan perebutan tenaga kerja semakin ketat sehingga mengganggu keseimbangan pasar tenaga kerja[cite: 13],
- bahkan dalam kasus terburuk, perusahaan terpaksa membatalkan rencana pembukaan cabang baru atau menutup usahanya[cite: 13].
Akibatnya, banyak perusahaan mengalami kerugian bisnis secara langsung[cite: 13].
Pentingnya Industri Restoran bagi Perekonomian
Industri restoran merupakan salah satu industri utama di Jepang dengan nilai pasar sekitar 30 triliun yen dan mempekerjakan sekitar 4 juta orang[cite: 13]. Industri ini tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi berbagai kebijakan nasional, seperti: menggerakkan perekonomian daerah, mendukung penerimaan wisatawan mancanegara (inbound tourism), serta mempromosikan budaya kuliner Jepang ke dunia[cite: 13].
Melihat besarnya peran tersebut, masih muncul pertanyaan mengenai sejauh mana dampak terhadap industri yang sangat penting ini telah dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan penghentian sementara tersebut[cite: 13].
Ke depan, diperlukan mekanisme yang lebih akurat dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan untuk menghitung serta menyesuaikan proyeksi jumlah penerimaan tenaga kerja asing, sehingga kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran[cite: 13].
Bab 4. Dari Sudut Pandang Pelaku Usaha Sumber Daya Manusia
4-1. Kebingungan Lembaga Pengirim di Berbagai Negara dan Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja di Jepang
Lembaga pengirim tenaga kerja (sending organization) dan institusi pendidikan yang kredibel di berbagai negara telah membangun program pendidikan yang sesuai dengan sistem Tokutei Ginou Jepang serta menginvestasikan sumber daya yang tidak sedikit[cite: 13].
Namun, penghentian penerbitan izin tinggal yang dilakukan secara tiba-tiba, ditambah ketidakjelasan mengenai kapan kebijakan tersebut akan dicabut, telah menimbulkan berbagai permasalahan[cite: 13]. Mulai dari kebingungan dalam memberikan arahan karier kepada peserta, sengketa terkait pengembalian biaya pendidikan, hingga munculnya ketidakpercayaan dengan anggapan bahwa “kebijakan Jepang tidak stabil dan sulit dipercaya.”[cite: 13]
Di sisi lain, perusahaan penyalur dan perekrutan tenaga kerja di Jepang juga menghadapi kekhawatiran yang besar[cite: 13]. Pasar penempatan tenaga kerja asing yang selama ini telah berupaya menjadi lebih transparan dan sehat dikhawatirkan akan kembali mengalami kemunduran[cite: 13]. Penyempitan akses penerimaan tenaga kerja asing berpotensi menekan permintaan pasar, sehingga praktik-praktik ilegal seperti broker gelap dan perekrutan yang tidak sesuai aturan dapat kembali berkembang di pasar bawah tanah (underground market)[cite: 13].
Dengan kata lain, kebijakan penghentian sementara ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada perusahaan yang menjalankan usaha secara sah, tetapi juga justru membuka kembali peluang bagi praktik-praktik perekrutan tenaga kerja asing yang ilegal dan tidak etis[cite: 13].
Bab 5. Dari Sudut Pandang Masyarakat dan Komunitas Lokal
5-1. Hakikat Kekhawatiran yang Dirasakan Masyarakat
Meskipun pemerintah tidak secara eksplisit menyatakan hal ini dalam kebijakan penghentian sementara tersebut, kekhawatiran masyarakat lokal terhadap meningkatnya jumlah warga negara asing tidak dapat diabaikan sebagai salah satu latar belakang yang melingkupi kebijakan tersebut[cite: 13]. Kekhawatiran masyarakat pada dasarnya mencakup beberapa hal berikut[cite: 13].
- Kekhawatiran terhadap keamanan dan ketertiban komunitas lokal: Masyarakat merasa khawatir akibat kurang dipatuhinya aturan-aturan kehidupan sehari-hari, seperti tata cara pembuangan sampah dan kebisingan, serta citra memburuknya keamanan yang terbentuk melalui pemberitaan media[cite: 13]. Pada dasarnya, hal ini merupakan persoalan integrasi sosial[cite: 13].
- Ketidakpercayaan terhadap pasar tenaga kerja dan sistem jaminan sosial: Muncul kekhawatiran bahwa masuknya tenaga kerja berupah rendah dapat menekan tingkat upah pekerja di dalam negeri[cite: 13]. Selain itu, terdapat pula kesalahpahaman bahwa tenaga kerja asing hanya menikmati manfaat sistem jaminan sosial tanpa memberikan kontribusi yang sepadan (free rider), sehingga menimbulkan rasa ketidakadilan[cite: 13].
- Ketidakpercayaan terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola sistem: Persoalan yang dirasakan masyarakat bukan semata-mata karena keberadaan orang asing, melainkan lebih kepada keraguan apakah pemerintah benar-benar mampu mengelola dan mengendalikan sistem penerimaan tenaga kerja asing secara efektif[cite: 13].
Sebagai pihak yang memperoleh manfaat ekonomi dari mempekerjakan tenaga kerja asing, perusahaan dan pelaku industri memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadapi secara langsung berbagai kekhawatiran yang dirasakan masyarakat[cite: 13]. Permasalahan ini tidak boleh begitu saja dianggap sebagai sekadar “diskriminasi” atau “kurangnya pemahaman” dari masyarakat[cite: 13]. Sebaliknya, perusahaan dan industri dituntut untuk menunjukkan langkah-langkah nyata serta pedoman tindakan yang proaktif guna menjaga rasa aman dan ketenteraman dalam kehidupan masyarakat[cite: 13].
Bab 6. Membangun Kembali Dialog dan Rekomendasi Kebijakan
Penghentian sementara penerbitan izin tinggal baru ini telah memperlihatkan dengan jelas bahwa persoalan terbesar yang dihadapi adalah adanya ketimpangan informasi (information asymmetry) dan kurangnya komunikasi serta dialog di antara para pihak yang berkepentingan[cite: 13].
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Gaikokujin Tekisei Koyou Platform (Platform penempatan kerja yang sesuai untuk orang asing) mengajukan rekomendasi sebagai berikut[cite: 13].
【Rekomendasi kepada Pemerintah】
- Menerapkan sistem pemberitahuan dini (Signal System): Membangun mekanisme peringatan secara bertahap, misalnya pemberitahuan → peringatan → tahap pertimbangan penghentian → penghentian, sehingga seluruh pihak memiliki kepastian dan dapat mempersiapkan diri sejak awal[cite: 13].
- Mempublikasikan data secara berkala: Secara terbuka mengumumkan data mengenai jumlah pemegang izin tinggal, jumlah permohonan yang diajukan, serta proyeksi waktu tercapainya kuota penerimaan[cite: 13].
- Menetapkan secara jelas kriteria pembukaan kembali: Tidak hanya menjelaskan alasan penghentian sementara, tetapi juga menetapkan secara transparan syarat serta prosedur untuk mencabut penghentian tersebut[cite: 13].
- Membentuk forum konsultasi antara pemerintah dan sektor swasta: Menyediakan wadah dialog yang melibatkan Badan Layanan Imigrasi Jepang, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, asosiasi industri, para pelaku terkait, serta kalangan akademisi dan peneliti[cite: 13].
【Rekomendasi kepada Pelaku Usaha dan Industri】
- Menyusun pedoman ketenagakerjaan bagi tenaga kerja asing: Tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, tetapi juga menetapkan standar etika yang mencakup terciptanya kehidupan yang harmonis antara tenaga kerja asing dan masyarakat setempat[cite: 13].
- Memperkuat akuntabilitas dan dialog dengan masyarakat: Melakukan komunikasi dan pertukaran pendapat secara aktif dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta masyarakat setempat[cite: 13]. Selain itu, pelaku usaha harus menghadapi berbagai persoalan yang muncul secara terbuka dan memenuhi tanggung jawabnya untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat, tanpa menghindari permasalahan yang terjadi[cite: 13].
Penutup
Kami, Gaikokujin Tekisei Koyou Platform (Platform penempatan kerja yang sesuai untuk orang asing), memiliki misi untuk menciptakan ruang dialog bagi seluruh pihak yang terlibat dalam ketenagakerjaan tenaga kerja asing[cite: 13].
Kami berharap penghentian sementara ini dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketimpangan informasi di antara para pemangku kepentingan serta memperkuat komunikasi dan saling pengertian[cite: 13].
Ke depan, kami berkomitmen untuk terus mendorong terwujudnya sistem ketenagakerjaan tenaga kerja asing yang berkelanjutan, terpercaya, dan sesuai, sehingga memberikan manfaat tidak hanya bagi masyarakat Jepang, tetapi juga bagi para tenaga kerja asing yang datang untuk bekerja di Jepang[cite: 13].
Unduh laporan resmi versi PDF di bawah ini:
Unduh Laporan PDF (Bahasa Indonesia)